Kamis, 07 Agustus 2014

Sepotong roti di atas baki

Ω
Kencana di pagi buta, melerai fajar di seruak pagi, dentang kan denting talu menalu....
itu yang terdengar di telingaku sejak orang-orang ramai membicarakan sepotong roti di atas baki.

Sepotong roti di atas baki ? lalu apa yang membuatnya begitu istimewa?

Sejak kali pertama aku melihat iring-iringan Raja dan punggawanya lima tahun lalu, baru kali ini lagi aku meyaksikan mereka melintasi jalan-jalan berbatu di seputar desa, menyusuri sisi utara sungai yang jernihnya mulai kecoklatan akibat hujan yang mengguyur hulu di sepanjang pekan terakhir ini, Sungai Gentayana, begitu orang menyebutnya, sungai besar yang membelah desa kami, Genta Manik di utara dan Genta Maya di selatan.

Di seberang sungai yang lebarnya mungkin empat sampai lima batang pohon kelapa dewasa yang biasa tumbuh subur di sepanjang bantaran sungai, tampak beberapa warga desa Genta Maya turut melambaikan tangan sebagai bentuk hormat kepada Raja.

Seharusnya ini sudah kelima kalinya aku menyaksikan iring-iringan tersebut. Tetapi tiga kali ketika Raja datang ke desa kami sebelumnya, aku masih harus membantu ayah mengantar beberapa ekor domba ke kota, Domba-domba muda yang kami rawat dan akan kami jual pada bulan-bulan tertentu yang di penghujung tahun.

"Dek, kamu sudah sarapan?"
tanya ibu sambil membesut selendang marun bermotif pakis dipundaknya.
"sudah bu, mas Anjar tadi memberi aku 2 potong gethuk dan singkong rebus kesukaannya"
"kamu ndak ikut main sama mas Sugeng dan mas Koko?"tanya ibu lagi
"ndak bu aku mau istirahat saja..."

Ibu, ia wanita yang penuh perhatian kepada kami, aku dan mas Anjar. Tutur katanya yang lembut sejak membangunkan kami saat subuh tiba dan tak pernah berubah sampai kami terlelap kembali di malam hari. Sesekali ia hanya sedikit memicingkan matanya jika ia menunjukkan suatu perbuatan kami yang memang salah jika dilakukan, dengan kalimat yang pelan tetapi tegas yang biasa lahir dari mulutnya membuat kami menjadi lebih mengerti untuk tidak melakukan perbuatan yang memang salah atau tidak berguna. Ayah pun demikian ia sangat perhatian kepada kami terutama masalah pendidikan, Tak segan ayah menjual domba dengan harga lebih rendah jika dijual saat hari-hari pasaran di penghujung tahun hanya karena untuk membelikan kami buku atau keperluan sekolah lainnya.

Aku, seperti halnya teman-temanku, umurku yang belum genap 14 tahun kerap gemar bermain hal yang lebih menantang dibanding ketika aku kecil dulu. Mas koko dan Mas Sugeng begitu ibu menyebutnya. Sebetulnya mereka bukan lebih tua jauh di atas aku, tetapi memang sudah terbiasa memanggil anak laki-laki dengan sebutan Mas, Mas sugeng sendiri hanya terpaut tiga bulan, dan mas koko hanya berbeda tanggal lahir saja denganku. Jika dahulu kami sering bermain petak umpet, kini saat fisik kami tumbuh lebih dewasa , bermain kami pun berbeda. Sekarang yang sering kami lakukan adalah berburu di hutan kecil di barat desa atau lomba memanjat pohon lalu terjun ke sungai Gentayana. Permainan seru yang paling disenangi anak seusia ku di desa.

Aku ingat hari itu adalah hari Selasa wage, ketika seorang anak kecil menjerit lalu berteriak minta tolong, Anung ku tahu namanya setelah beberapa orang bertanya-tanya "kenapa si anung?".."ada apa dengan anung?" Jeritan bocah berumur lima tahunan itu memecahkan perhatian orang yang hendak berangkat bekerja. Adalah demang Sukmo yang pertama kali menghapiri Anung.

Tampak dari kejauhan aku melihat tubuh kekar demang Sukmo yang terbalut safari berwarna putih dan celana lurik kesukaannya tengah mendekap erat tubuh kecil anung. terlihat pula seorang wanita bertubuh kurus menghampirinya mereka, ya itu ibunda anung. Wanita yang dulu sempat menjadi bunga desa..Tubuhnya yang tinggi langsing, parasnya yang cantik dengan kulit langsat yang kuning merona membuat banyak lelaki di separuh kerajaan Gentabuana ingin berlomba memiliki. Tetapi hanya seorang yang ia cintai dan berjodoh dengannya, Cokro, seorang juru masak kerajaan.



bersambung...





"wahai jiwa yang terlelap di dekap kantuk semalam suntuk.
kembalilah beraksi karena pagi ini begitu berarti"

wahai jiwa di suri yang mati, bangun lalu berdirilah..kereta kencana telah tiba...

ayoooooo semangeeeeet!!!

Sikat Gigi dan Garpu

Sikat gigi dan garpu dua benda sederhana yang selalu hadir di hari-hari kita, dibanding dengan garpu sikat gigi pasti lebih sering kita gunakan. Sikat gigi mewakili jati diri siapa saja yang berusaha tampil bersih bebas masalah mulut dan gigi.

Lain sikat gigi lain garpu, benda berbentuk pancasula atau kadang  dua sula seperti  garpu plastik kecil. meski tidak mewakili jadi diri penggunanya secara utuh iya juga memiliki arti penting bagi pemakainya, terutama kalo sedang memakan makanan yang sulit dijangkau dengan sendok atau tidak enak kalo dimakan langsung pake tangan.

COKELAT & SI COKELAT (by de2ayu)

Hari ini saya terlambat datang karena pergi membeli cokelat Ferrero Rocher di sebuah pasar swalayan. Cokelat yang sejak SMA sampai detik ini masih jadi favorit saya, namun sangat jarang saya makan karena harganya yang kurang bersahabat dengan isi dompet. Saya hanya sanggup memborong cokelat Ferrero Rocher sebulan sekali, setiap habis gajian! Hehehe....

Tapi, dalam bulan ini, ini sudah ketiga kalinya saya datangi pasar swalayan itu hanya untuk membeli satu pak cokelat Ferrero Rocher. Saya sunat bujet buat makan sehari-hari termasuk bujet buat bepergian dan hang out sama teman-teman yang rutin saya lakukan, hanya agar Si Ferrero Rocher bisa selalu ada dalam genggaman.

Yap. Entah kenapa, lidah saya setiap hari selalu menagih lumeran cairan  manis itu, berikut kriuk-kriuk kres-nya. Seketika, perasaan melayang dan senang tiada terkira datang saat Si Ferrero Rocher mengintervensi mulut kecil saya. Hmmmm, sepertinya Si Ferrero Rocher ini satu keluarga dengan daun yang sering dilinting oleh teman di sebelah bangku saya. (Piss Gims! Hahaha....)

COKELAT! Saya pandangi Si Ferrero Rocher yang sekarang saya taruh di bawah monitor komputer.Walau banyak penjelasan ilmiah tentang cokelat yang sudah saya baca, tapi efek senang yang diberikan oleh Si Ferrero Rocher tetap saja sebuah misteri yang belum terpecahkan bagi saya. Seperti halnya, efek senang yang diberikan oleh seorang cowok berkulit COKELAT, yang belum lama ini saya kenal. 

Hah! Dari mana datangnya manusia ini, Tuhan? Kenapa Kau tiba-tiba kirimkan dia pada saya? Saya masih belum habis pikir, bahkan hingga tarikan dan hembusan nafas saya barusan....

Maaf Tuhan, saya bukannya protes. Saya justru senang Kau kirimkan dia pada saya. Sebab, ternyata dia memiliki "sesuatu" yang belum pernah saya temui sebelumnya dalam diri cowok-cowok yang saya kenal. Kecuali, dalam diri ayah dan kakak-kakak saya tercinta. Paling tidak dia sudah berhasil menjawab pertanyaan saya tentang roti buaya, meski belum cukup memuaskan menjawab pertanyaan saya tentang mata udang yang menonjol keluar. (At least, dia sudah berusaha!)

Well, meski saya masih suka terkaget-kaget ketika ngobrol dengannya, tapi saya senang karena banyak hal yang bisa saya dapatkan darinya. Isi kepalanya yang dia ungkapkan melalui mulutnya, memaksa saya untuk kembali belajar memahami seseorang. Bahkan ketika isi kepalanya itu dia ungkapkan dengan cara berputar-putar layaknya membacakan sebuah karya sastra. Bikin saya pusing!

Maaf Tuhan, saya bukannya protes. Saya justru senang Kau kirimkan dia pada saya. Hanya saja, sejak pertama saya kenal dengannya, saya sudah merasa ada begitu banyak perbedaan antara saya dengan dia. Seperti yang pernah dia bilang, "Kita itu ibarat kutub positif dan kutub negatif. Tapi, gue kutub positifnya dan lo kutub negatifnya, hehehe....". (Oooh, saya baru tahu kalau saya sudah bereinkarnasi jadi magnet?!)

Yap. Mungkin dalam soal prinsip dan pandangan hidup, sejauh ini kita memiliki banyak persamaan. Begitupun soal mie ayam, semur jengkol, nasi goreng, tauco tahu.... Cuma, soal sifat? Upssss..., sepertinya lumayan berbeda! Misalnya saja, soal sensitivitas alias kepekaan yang begitu minim kadarnya dalam diri saya, dibandingkan dalam diri dia. Atau, soal menyampaikan sesuatu, di mana saya (selalu) lebih suka memakai prinsip "to the point", walau kadang bisa disalahpersepsikan dan dianggap menyakitkan.

Ah, apapun itu, saya berterima kasih pada-Mu, Tuhan. Sudah banyak episode kehidupan yang Kau percayakan pada saya. Berat..., ringan.... Semuanya selalu berakhir dengan menyenangkan, seperti ketika Si Ferrero Rocher membuat saya seolah memiliki sayap dan bisa pergi ke mana saja. 

SI COKELAT mungkin satu episode kehidupan baru yang Kau percayakan pada saya. Beri saya sesuatu yang bisa membuat hidup saya lebih berharga dan berarti dihadapan-Mu, melalui satu episode kehidupan yang baru ini. Saya percaya, tidak ada tujuan buruk dibalik semua episode kehidupan yang Kau percayakan pada saya.

Dan buat kamu, SI COKELAT. Welcome to my life, preeen...! Give me something, don't make me nothing....