Hari
ini saya terlambat datang karena pergi membeli cokelat Ferrero Rocher
di sebuah pasar swalayan. Cokelat yang sejak SMA sampai detik ini masih
jadi favorit saya, namun sangat jarang saya makan karena harganya yang
kurang bersahabat dengan isi dompet. Saya hanya sanggup memborong cokelat Ferrero Rocher sebulan sekali, setiap habis gajian! Hehehe....
Tapi,
dalam bulan ini, ini sudah ketiga kalinya saya datangi pasar swalayan
itu hanya untuk membeli satu pak cokelat Ferrero Rocher. Saya sunat
bujet buat makan sehari-hari termasuk bujet buat bepergian dan hang out
sama teman-teman yang rutin saya lakukan, hanya agar Si Ferrero Rocher
bisa selalu ada dalam genggaman.
Yap.
Entah kenapa, lidah saya setiap hari selalu menagih lumeran cairan
manis itu, berikut kriuk-kriuk kres-nya. Seketika, perasaan melayang dan
senang tiada terkira datang saat Si Ferrero Rocher mengintervensi mulut kecil saya.
Hmmmm, sepertinya Si Ferrero Rocher ini satu keluarga dengan daun yang
sering dilinting oleh teman di sebelah bangku saya. (Piss Gims!
Hahaha....)
COKELAT!
Saya pandangi Si Ferrero Rocher yang sekarang saya taruh di bawah
monitor komputer.Walau banyak penjelasan ilmiah tentang cokelat yang
sudah saya baca, tapi efek senang yang diberikan oleh Si Ferrero Rocher
tetap saja sebuah misteri yang belum terpecahkan bagi saya. Seperti
halnya, efek senang yang diberikan oleh seorang cowok berkulit COKELAT,
yang belum lama ini saya kenal.
Hah!
Dari mana datangnya manusia ini, Tuhan? Kenapa Kau tiba-tiba kirimkan
dia pada saya? Saya masih belum habis pikir, bahkan hingga tarikan dan
hembusan nafas saya barusan....
Maaf
Tuhan, saya bukannya protes. Saya justru senang Kau kirimkan dia pada
saya. Sebab, ternyata dia memiliki "sesuatu" yang belum pernah saya
temui sebelumnya dalam diri cowok-cowok yang saya kenal. Kecuali, dalam
diri ayah dan kakak-kakak saya tercinta. Paling tidak dia sudah berhasil
menjawab pertanyaan saya tentang roti buaya, meski belum cukup
memuaskan menjawab pertanyaan saya tentang mata udang yang menonjol
keluar. (At least, dia sudah berusaha!)
Well,
meski saya masih suka terkaget-kaget ketika ngobrol dengannya, tapi
saya senang karena banyak hal yang bisa saya dapatkan darinya. Isi
kepalanya yang dia ungkapkan melalui mulutnya, memaksa saya untuk
kembali belajar memahami seseorang. Bahkan ketika isi kepalanya itu dia
ungkapkan dengan cara berputar-putar layaknya membacakan sebuah karya
sastra. Bikin saya pusing!
Maaf
Tuhan, saya bukannya protes. Saya justru senang Kau kirimkan dia pada
saya. Hanya saja, sejak pertama saya kenal dengannya, saya sudah merasa
ada begitu banyak perbedaan antara saya dengan dia. Seperti yang pernah
dia bilang, "Kita itu ibarat kutub positif dan kutub negatif. Tapi, gue
kutub positifnya dan lo kutub negatifnya, hehehe....". (Oooh, saya baru
tahu kalau saya sudah bereinkarnasi jadi magnet?!)
Yap.
Mungkin dalam soal prinsip dan pandangan hidup, sejauh ini kita
memiliki banyak persamaan. Begitupun soal mie ayam, semur jengkol, nasi
goreng, tauco tahu.... Cuma, soal sifat? Upssss..., sepertinya lumayan
berbeda! Misalnya saja, soal sensitivitas alias kepekaan yang begitu
minim kadarnya dalam diri saya, dibandingkan dalam diri dia. Atau, soal
menyampaikan sesuatu, di mana saya (selalu) lebih suka memakai prinsip
"to the point", walau kadang bisa disalahpersepsikan dan dianggap
menyakitkan.
Ah,
apapun itu, saya berterima kasih pada-Mu, Tuhan. Sudah banyak episode
kehidupan yang Kau percayakan pada saya. Berat..., ringan.... Semuanya
selalu berakhir dengan menyenangkan, seperti ketika Si Ferrero Rocher
membuat saya seolah memiliki sayap dan bisa pergi ke mana saja.
SI
COKELAT mungkin satu episode kehidupan baru yang Kau percayakan pada
saya. Beri saya sesuatu yang bisa membuat hidup saya lebih berharga dan
berarti dihadapan-Mu, melalui satu episode kehidupan yang baru ini. Saya
percaya, tidak ada tujuan buruk dibalik semua episode kehidupan yang
Kau percayakan pada saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar