Kencana di pagi buta, melerai fajar di seruak pagi, dentang kan denting talu menalu....
itu yang terdengar di telingaku sejak orang-orang ramai membicarakan sepotong roti di atas baki.
Sepotong roti di atas baki ? lalu apa yang membuatnya begitu istimewa?
Sejak kali pertama aku melihat iring-iringan Raja dan punggawanya lima tahun lalu, baru kali ini lagi aku meyaksikan mereka melintasi jalan-jalan berbatu di seputar desa, menyusuri sisi utara sungai yang jernihnya mulai kecoklatan akibat hujan yang mengguyur hulu di sepanjang pekan terakhir ini, Sungai Gentayana, begitu orang menyebutnya, sungai besar yang membelah desa kami, Genta Manik di utara dan Genta Maya di selatan.
Di seberang sungai yang lebarnya mungkin empat sampai lima batang pohon kelapa dewasa yang biasa tumbuh subur di sepanjang bantaran sungai, tampak beberapa warga desa Genta Maya turut melambaikan tangan sebagai bentuk hormat kepada Raja.
Seharusnya ini sudah kelima kalinya aku menyaksikan iring-iringan tersebut. Tetapi tiga kali ketika Raja datang ke desa kami sebelumnya, aku masih harus membantu ayah mengantar beberapa ekor domba ke kota, Domba-domba muda yang kami rawat dan akan kami jual pada bulan-bulan tertentu yang di penghujung tahun.
"Dek, kamu sudah sarapan?"
tanya ibu sambil membesut selendang marun bermotif pakis dipundaknya.
"sudah bu, mas Anjar tadi memberi aku 2 potong gethuk dan singkong rebus kesukaannya"
"kamu ndak ikut main sama mas Sugeng dan mas Koko?"tanya ibu lagi
"ndak bu aku mau istirahat saja..."
Ibu, ia wanita yang penuh perhatian kepada kami, aku dan mas Anjar. Tutur katanya yang lembut sejak membangunkan kami saat subuh tiba dan tak pernah berubah sampai kami terlelap kembali di malam hari. Sesekali ia hanya sedikit memicingkan matanya jika ia menunjukkan suatu perbuatan kami yang memang salah jika dilakukan, dengan kalimat yang pelan tetapi tegas yang biasa lahir dari mulutnya membuat kami menjadi lebih mengerti untuk tidak melakukan perbuatan yang memang salah atau tidak berguna. Ayah pun demikian ia sangat perhatian kepada kami terutama masalah pendidikan, Tak segan ayah menjual domba dengan harga lebih rendah jika dijual saat hari-hari pasaran di penghujung tahun hanya karena untuk membelikan kami buku atau keperluan sekolah lainnya.
Aku, seperti halnya teman-temanku, umurku yang belum genap 14 tahun kerap gemar bermain hal yang lebih menantang dibanding ketika aku kecil dulu. Mas koko dan Mas Sugeng begitu ibu menyebutnya. Sebetulnya mereka bukan lebih tua jauh di atas aku, tetapi memang sudah terbiasa memanggil anak laki-laki dengan sebutan Mas, Mas sugeng sendiri hanya terpaut tiga bulan, dan mas koko hanya berbeda tanggal lahir saja denganku. Jika dahulu kami sering bermain petak umpet, kini saat fisik kami tumbuh lebih dewasa , bermain kami pun berbeda. Sekarang yang sering kami lakukan adalah berburu di hutan kecil di barat desa atau lomba memanjat pohon lalu terjun ke sungai Gentayana. Permainan seru yang paling disenangi anak seusia ku di desa.
Aku ingat hari itu adalah hari Selasa wage, ketika seorang anak kecil menjerit lalu berteriak minta tolong, Anung ku tahu namanya setelah beberapa orang bertanya-tanya "kenapa si anung?".."ada apa dengan anung?" Jeritan bocah berumur lima tahunan itu memecahkan perhatian orang yang hendak berangkat bekerja. Adalah demang Sukmo yang pertama kali menghapiri Anung.
Tampak dari kejauhan aku melihat tubuh kekar demang Sukmo yang terbalut safari berwarna putih dan celana lurik kesukaannya tengah mendekap erat tubuh kecil anung. terlihat pula seorang wanita bertubuh kurus menghampirinya mereka, ya itu ibunda anung. Wanita yang dulu sempat menjadi bunga desa..Tubuhnya yang tinggi langsing, parasnya yang cantik dengan kulit langsat yang kuning merona membuat banyak lelaki di separuh kerajaan Gentabuana ingin berlomba memiliki. Tetapi hanya seorang yang ia cintai dan berjodoh dengannya, Cokro, seorang juru masak kerajaan.
bersambung...
"wahai jiwa yang terlelap di dekap kantuk semalam suntuk.
kembalilah beraksi karena pagi ini begitu berarti"
wahai jiwa di suri yang mati, bangun lalu berdirilah..kereta kencana telah tiba...
ayoooooo semangeeeeet!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar